Perlindungan Produk Pertanian Masih Diperlukan
Oleh MC Kabupaten SubangKamis, 05 Juli 2012 | 07:36
Subang, InfoPublik - Para petani Indonesia masih perlu perlindungan produksi dari gempuran impor, terutama produksi pertanian yang selama ini menjadi andalan para petani.
Menurut salah seorang petani Subang, H. Ahmad Zaelani, pihaknya yakin bahwa produk pertanian Indonesia masih bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri tanpa mengandalkan impor.
Diakui bahwa impor yang dilakukan pemerintah ialah untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Namun pemerintah juga harus memperhatikan supaya produk anak negeri tetap dilindungi.
"Kebutuhan dalam negeri memang perlu dipenuhi. Namun produk petani kita juga harus dilindungi," katanya, saat ditemui di kediamannya, Minggu (1/7).
H. Ahmad juga mengemukakan, upaya pemerintah dengan menetapkan imbal beli produk petani lokal oleh importir cukup membantu. Namun jumlahnya perlu ditingkatkan lagi. Importir ketika akan impor beras diwajibkan membeli sebanyak 7,5% dari jumlah yang akan diimpor.
Dalam pertemuan pelaku bisnis pangan dengan konsumen di Jakarta, beberapa waktu lalu, kata Ahmad, apresiasi kepada produk beras Subang sangat bagus tetapi harga masih cukup tinggi, sehingga kalah dengan produksi Vietnam dan Thailand.
Tetapi kualitas lebih pulen dari yang lainnya. "Memang dari harga kita kalah dengan impor, tetapi dari kepulenan kita lebih baik," tambahnya.
Melalui Temu Bisnis yang dilakukan sangat terbantu akan pemasaran produk. Dari pertemuan itu akhirnya dapat diketahui kebutuhan beras DKI sebanyak 3 juta ton per bulan. Dari diskusi yang berlangsung sebenarnya produksi dalam negeri masih mampu untuk kurangi impor.
Tinggal kebijakan pemerintah yang harus berpihak kepada perlindungan petani lokal. Diakui masih beratnya antara memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan perlindungan petani lokal. Begitu pula dengan buah-buahan lokal kesegarannya jauh lebih baik daripada buah impor. (toeb)
Menurut salah seorang petani Subang, H. Ahmad Zaelani, pihaknya yakin bahwa produk pertanian Indonesia masih bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri tanpa mengandalkan impor.
Diakui bahwa impor yang dilakukan pemerintah ialah untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Namun pemerintah juga harus memperhatikan supaya produk anak negeri tetap dilindungi.
"Kebutuhan dalam negeri memang perlu dipenuhi. Namun produk petani kita juga harus dilindungi," katanya, saat ditemui di kediamannya, Minggu (1/7).
H. Ahmad juga mengemukakan, upaya pemerintah dengan menetapkan imbal beli produk petani lokal oleh importir cukup membantu. Namun jumlahnya perlu ditingkatkan lagi. Importir ketika akan impor beras diwajibkan membeli sebanyak 7,5% dari jumlah yang akan diimpor.
Dalam pertemuan pelaku bisnis pangan dengan konsumen di Jakarta, beberapa waktu lalu, kata Ahmad, apresiasi kepada produk beras Subang sangat bagus tetapi harga masih cukup tinggi, sehingga kalah dengan produksi Vietnam dan Thailand.
Tetapi kualitas lebih pulen dari yang lainnya. "Memang dari harga kita kalah dengan impor, tetapi dari kepulenan kita lebih baik," tambahnya.
Melalui Temu Bisnis yang dilakukan sangat terbantu akan pemasaran produk. Dari pertemuan itu akhirnya dapat diketahui kebutuhan beras DKI sebanyak 3 juta ton per bulan. Dari diskusi yang berlangsung sebenarnya produksi dalam negeri masih mampu untuk kurangi impor.
Tinggal kebijakan pemerintah yang harus berpihak kepada perlindungan petani lokal. Diakui masih beratnya antara memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan perlindungan petani lokal. Begitu pula dengan buah-buahan lokal kesegarannya jauh lebih baik daripada buah impor. (toeb)
Berita Terkait
- Belum ada berita terkait
Berita Terkini
[Indeks]
Sabtu, 25 Mei 2013 | 11:08
BNP2TKI Apresiasi HRD Korea Berdayakan Mantan TKI Korea
Jakarta, InfoPublik - Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) mengapresiasi langkah Human Resources Development Service of Korea (HRD Korea) dalam pemberdayaan para mantan TKI Korea.
Berita Populer
[Indeks]
Jabar Terbaik Hasil UN SMA, 1 Siswa Tidak Lulus
Jakarta, InfoPublik - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh merilis data angka-angka ketidaklulusan Ujian Nasional (UN) siswa tingkat SMA untuk tahun ajaran 2012/2013.

