Bisnis Ikan Sidat Janjikan Keuntungan Besar
Oleh MC Kabupaten SidoarjoRabu, 18 April 2012 | 12:23
Gunadi (45), warga Pucang Permai AB/ 20 Kabupaten Sidoarjo, kini sedang sibuk mempopulerkan ikan sidat ke masyarakat luas. Baginya, ikan mirip belut ini mendatangkan bisnis yang sangat bagus. Tentu saja bila ditekuni dengan serius. Menurut pemilik CV Masyarakat Mandiri ini, nama ikan sidat mungkin masih kalah popular dengan ikan-ikan jenis lain yang sering dibudidayakan orang, seperti lele, gurame, belut dan nila. Ikan sidat di dalam negeri memang belum menempati posisi bagus. Dikarenakan harganya yang memang masih sangat mahal. Tetapi, di negara seperti Jepang, Macau, Taiwan, China dan Hongkong, ikan sidat merupakan ikan yang sangat digemari. Itu dikarenakan ikan yang juga dikenal dengan nama unagi ini, memiliki kandungan gizi yang tinggi. Di Jepang, harga ikan sidat sangatlah fantastis. Bila sudah masuk di restoran, harganya bisa mencapai Rp400 ribu per porsi. "Konon malah di restoran Eropa bisa mencapai jutaan per porsi, sehingga peluang bisnis ikan sidat sangat bagus untuk ditekuni," ujar Gunadi. Di Jepang, katanya lagi, ikan sidat ini memang bukanlah makanan biasa. Ia termasuk termahal di restoran Jepang, sehingga bila dijamu dengan hidangan makanan ini, menunjukkan sebagai tamu terhormat. Ikan yang punya nama latin angulia bicolor ini, merupakan suguhan makanan bagi pebisnis besar dan terkenal atau tokoh besar yang penting di Jepang. Karena itu, yang terlibat dalam bisnis ikan sidat disana adalah perusahaan besar multinasional, seperti Mitsui, Marubeni, Ssasakawa. Kini, ikan yang menjadi santapan elite Jepang itu, menurut Gunadi, mulai juga diminati pebisnis di Indonesia. Ini menjadikan permintaan ikan sidat, akan sangat tinggi, baik di pasar lokal maupun pasar internasional. "Sayang permintaan yang sangat baik itu tidak diimbangi dengan ketersediaan pasokan," ujar Gunadi, yang punya base camp ikan sidat di daerah Pandansari Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto itu. Menurut data BPPT, setiap tahunnya negara seperti Jepang membutuhkan 150 ribu ton sampai 250 ribu ton ikan sidat di dunia. Namun Jepang sendiri hanya mampu menghasilkan 21 ribu ton per tahunnya. Ini lantaran, benih sidat di perairan Jepang mulai menurun. Karena itu Jepang kini sekitar 75 % harus mengimpor sidat dari luar. Dari data tersebut, menurut Gunadi, menunjukkan peluang usaha eksport ikan sidat sangatlah terbuka lebar. Berdasarkan pengalamannya, memelihara ikan sidat lebih menguntungkan dari memelihara ikan seperti lele, nila dan belut. Ia telah menghitung, dengan modal Rp15 juta, ia dapat keuntungan Rp2.6 juta setiap panen bila memelihara lele. Dengan modal yang sama, ia
dapat keuntungan Rp10 juta bila memelihara nila. Dan dapat keuntungan Rp 1.8 juta bila memelihara belut. "Tetapi dengan modal sama, saya dapat keuntungan Rp 23.5 juta dengan memelihara sidat," ujarnya.
Beberapa daerah di Jawa Timur, menurutnya sudah mulai banyak yang butuh bibit ikan sidat ini. Seperti dari Malang, Pasuruan, Kediri, Mojokerto dan Blitar. Selain menyediakan bibit, Gunadi, juga siap untuk membeli kembali hasil panen ikan sidat ini. Dengan harga beli sampai Rp70 ribu/kg. Dari pengalaman itu ia menyimpulkan, kalau budidaya ikan sidat jauh menguntungkan dibanding budidaya ikan lainnya. Baik dari segi biaya pemeilharaan maupun nilai jualnya. "Pembudidayaan ikan sidat di Sidoarjo saat ini sedang kita rintis," sebutnya. Ia berharap dengan banyaknya pembudidayaan ikan ikan sidat, akan dapat menambah khazanah masakan unggulan. Tentunya tidak hanya bisa dinikmati kalangan tertentu saja, melainkan juga kepada seluruh lapisan masyarakat. Agar bisa sejalan dengan program pemerintah yang melakukan gerakan gemar makan ikan.(dry)
dapat keuntungan Rp10 juta bila memelihara nila. Dan dapat keuntungan Rp 1.8 juta bila memelihara belut. "Tetapi dengan modal sama, saya dapat keuntungan Rp 23.5 juta dengan memelihara sidat," ujarnya.
Beberapa daerah di Jawa Timur, menurutnya sudah mulai banyak yang butuh bibit ikan sidat ini. Seperti dari Malang, Pasuruan, Kediri, Mojokerto dan Blitar. Selain menyediakan bibit, Gunadi, juga siap untuk membeli kembali hasil panen ikan sidat ini. Dengan harga beli sampai Rp70 ribu/kg. Dari pengalaman itu ia menyimpulkan, kalau budidaya ikan sidat jauh menguntungkan dibanding budidaya ikan lainnya. Baik dari segi biaya pemeilharaan maupun nilai jualnya. "Pembudidayaan ikan sidat di Sidoarjo saat ini sedang kita rintis," sebutnya. Ia berharap dengan banyaknya pembudidayaan ikan ikan sidat, akan dapat menambah khazanah masakan unggulan. Tentunya tidak hanya bisa dinikmati kalangan tertentu saja, melainkan juga kepada seluruh lapisan masyarakat. Agar bisa sejalan dengan program pemerintah yang melakukan gerakan gemar makan ikan.(dry)
Berita Terkini
[Indeks]
Jum'at, 24 Mei 2013 | 22:00
DPR Berharap Pemerintah Dapat Selesaikan Masalah Papua
Jakarta, InfoPublik - Komisi I DPR menilai perlunya suatu landasan kokoh untuk memulai proses penyelesaian isu Papua secara komprehensif dan damai.
Berita Populer
[Indeks]
Jabar Terbaik Hasil UN SMA, 1 Siswa Tidak Lulus
Jakarta, InfoPublik - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh merilis data angka-angka ketidaklulusan Ujian Nasional (UN) siswa tingkat SMA untuk tahun ajaran 2012/2013.

