Ikuti Survei Pemahaman Berita Korupsi

Ya, Lanjutkan | Tidak, Terimakasih

Portal InfoPublik - Masyarakat Tionghoa Gelar Perayaan Cheng Beng

Masyarakat Tionghoa Gelar Perayaan Cheng Beng

Oleh MC Kota Singkawang

Kamis, 29 Maret 2012 | 12:13

+ | Normal | -


Singkawang, InfoPublik
 - Ratusan  warga masyarakat Tionghoa menggelar perayaan Cheng Beng, yang dimulai sejak 21 Maret dan puncaknya pada 4 April 2012, yaitu ziarah ke makam orangtua, keluarga maupun leluhur mereka untuk mengingat segala jasa-jasanya. 

Cheng Beng merupakan momentum istimewa bagi masyarakat Tionghoa untuk berziarah ke makam orangtua, keluarga atau leluhur dengan membersihkan makam, berdoa serta bersembahyang sesuai agama, kepercayaan dan dengan caranya masing-masing.

Tampak ratusan warga Tionghoa berduyun-duyun mendatangi komplek pekuburan Tionghoa pokok Manggis di Kelurahan Pasiran, Singkawang Barat, untuk berzirah di depan makam leluhur. Tidak sedikit diantara mereka, sudah datang sejak subuh bersama rombongan keluarga untuk menggelar sembahyang.

 Masyarakat Tionghoa, memanfaatkan momen istimewa tersebut sebagai ungkapan rasa bakti seorang anak kepada kedua orangtua dan para leluhur. Cheng Beng  seakan menarik kembali para cicit, cucu, anak, dan keturunan dalam satu garis dimana mereka dilahirkan.

Sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan rasa terimakasih, tak lupa mereka membawa berbagai persembahan berupa aneka sajian makanan, yang dipersembahkan kepada leluhur yang telah tiada.

"Walaupun di dunia sudah lama tiada, namun orang tua dan leluhur masih hidup di alam sana. Mereka tetap melihat kita yang masih hidup di dunia. Maka sebagai anak, kita juga wajib memberikan rasa hormat dan bakti kepada orangtua," kata Liu Jun Liong (46), warga Tangerang, usai menggelar ritual sembahyang kubur. 

Aliong bersama beberapa anggota keluarganya sejak pukul 05.00 subuh, sudah berada di komplek pekuburan tersebut yang pada hari itu dikunjungi ratusan peziarah. 

Kepulan asap dupa dan aroma kayu cendana menyengat di areal pekuburan itu. Sementara di sekeliling jalan disesaki puluhan mobil dan kendaraan roda dua berbagai merk yang terparkir dengan rapi.

"Kami merasa ada yang kurang bila tidak pulang ke Singkawang untuk bersembahyang di makam orangtua," tutur Aliong, yang mengaku sudah 17 tahun menetap di Tangerang, Banten.

Sebagai pernyataan rasa bakti terhadap orangtua, tidak menjadi masalah bagi dirinya, harus merogoh kantongnya guna membeli tiket pesawat Jakarta-Singkawang yang harganya cukup melambung dengan adanya budaya sembahyang kubur tersebut.

"Soal rezeki, itu bisa dicari, namun tanda bakti dan  pernyataan hormat kepada orangtua tidak boleh terabaikan. Setiap tahun menjelang Cheng Beng dan sembahyang Chit Nyiat Pan, kami selalu pulang ke kampung halaman untuk bersembahyang dan memanjatkan doa di depan makam orangtua,” tutur Liu Jun Liong.

Tak hanya Aliong, banyak pula di antara peziarah, yang sudah puluhan tahun menetap di luar negeri kembali ke kampung halaman untuk melaksanakan sembahyang Cheng Beng pada hari itu.

Menurut Ketua Majelis Tao Indonesia (MTI) Resort Singkawang, Tjhai Ket Khiong, sembahyang Cheng Beng merupakan sembahyang wajib bagi seluruh masyarakat Tionghoa untuk mengenang kembali budi kebajikan dan memberikan penghormatan yang setulus-tulusnya, baik kepada orangtua maupun para leluhur.

Prosesi sembahyang Cheng Beng, dimulai dengan menyalakan sepasang lilin dan dupa, kemudian dilanjutkan dengan berlutut dan berdoa. Pembacaan doa ditujukan kepada Dewa Bumi (Thu Thi Pak Kung) yang menerangkan bahwa, pihak keluarga sudah datang ke makam leluhur untuk bersembahyang. Setelah itu, barulah bersembahyang di makam leluhur atau orangtua dan memanjatkan doa.

Sebelumnya, keluarga yang datang bersembahyang terlebih dahulu sudah membawa aneka perbekalan. Antara lain berupa aneka jenis makanan seperti kue-kue, buah-buahan dan makanan Vegetarian. Tak ketinggalan pula kertas sembahyang emas dan perak untuk menerangi roh leluhur.

“Umumnya doa yang dipanjatkan adalah berupa berkah kesehatan, keselamatan dan keluarga aman sentosa. Ada juga yang memanjatkan doa supaya memperoleh rejeki dan dilancarkan usahanya. Namun, doa yang paling baik adalah mendoakan arwah orangtua atau leluhur agar tenang dan bahagia di alam akherat dan segera terlahir kembali di alam yang menyenangkan,” kata Tjhai Ket Khiong.

Usai sembahyang, tak lupa mereka melakukan sedekah di komplek pekuburan itu, terutama kepada orang-orang yang telah membantu membersihkan makam atau membantu menerangkan jalannya prosesi sembahyang.

Menurut Tjhai Ket Khiong, sembahyang Cheng Beng dari sudut pandang ajaran Tao lebih mengarah pada pernyataan bakti terhadap orangtua. Begitu besarnya jasa orang tua sehingga dalam ajaran Tao, tidak akan ada sesuatu apapun yang dapat mengimbangi budi kebajikan kedua kebaikan orang tua.

Dalam ajaran Konghucu, juga telah diuraikan betepa besarnya jasa orang tua kepada anak-anaknya. Kedua orangtua, berjuang sepenuh hati membimbing anak-anaknya untuk senantiasa berbuat kebajikan dan menjauhi perbuatan yang tidak benar. mencegah anaknya dari tindakan jahat. 

“Kedua orangtua juga membekali anaknya pendidikan dan keterampilan, mencarikan pasangan, dan menyerahkan warisan ketika saatnya tiba. Makna inilah sebenarnya yang terkandung dalam sembahyang Cheng Beng yang harusnya selalu diingat  oleh setiap anak setiap tahunnya," kata Tjhai Ket Khiong.

Masih diungkapkan Akhiong, dalam budaya masyarakat Tionghoa, ada dua kali sembahyang yang ditujukan bagi keluarga yang telah meninggal, yaitu sembahyang bulan tiga  yang dikenal Cheng Beng, dan sembahyang di bulan 7 penanggalan Imlek, yang dikenal Cioko atau Chau Tu.

Sembahyang Cheng Beng, merupakan sembahyang wajib dan sangat penting, karena sembahyang ini ditujukan untuk kedua orangtua atau para leluhur yang telah meninggal yang masih dikenali, sedangkan sembahyang Chit Gwee atau Chio kou lebih ditujukan kepada makhluk atau arwah terlantar, yang tidak disembahyangi atau tidak dikenali oleh sanak keluarganya. 

Hal ini bisa terjadi, karena arwah yang meninggal ini, tidak diketahui atau dikenali oleh keluarganya. Bisa juga karena, silsilah keluarga mereka telah meninggal semua atau istilah kasarnya tidak ada turunan. 

“Kondisi seperti ini, biasanya terjadi pada arwah yang semasa hidupnya tidak pernah menikah, sehingga ketika ia meninggal, tidak ada anak cucu yang menyembahyanginya," ujar Tjhai Ket Khiong.

Pada saat sembahyang Cheng Beng masyarakat Tionghoa mendatangi komplek pekuburan keluarga untuk membersihkan makam mereka dari semak belukar dan menerangi dengan pelita atau lilin serta pembakaaran kertas sembahyang.

“Cheng Beng berarti Bersih dan Terang, mengacu kepada makam leluhur yang dibersihkan. Setelah makam dibersihkan, lalu dilaksanakan lah sembahyang Kwe Cua (Ka Ci), yaitu menabur kertas emas dan perak untuk menandai makam leluhur,” ungkap Tjhai Ket Khiong.

Kebiasaan orang-orang Tionghoa yang menaruh untaian kertas merah di atas kuburan dan menabur kertas sembahyang ke seluruh makam leluhur, dimulai sejak dinasti Ming. 

Menurut cerita rakyat yang beredar pada waktu itu, tradisi menabur kertas sembahyang ini, adalah atas perintah Zhu Yuan zhang, kaisar pendiri dinasti Ming, untuk mencari kuburan ayahnya. 

Karena Kaisar Zhu Yuan Zhang tidak mengenali dimana letak kuburan orangtuanya, maka diperintahkanlah seluruh rakyat untuk menabur kertas sembahyang di sekitar areal makam leluhurnya. Rakyatpun mematuhi perintah tersebut. 

Setelah seluruh makam kelurganya ditaburi kertas sembahyang lalu ditemukanlah satu makam yang tidk ditaburi kertas. Dari sanalah Zhu Yuan Zhang menemukan makam orangtuanya. Sejak itu, Kaisar Zhu Yuan Zhang mewajibkan seluruh rakyat untuk sembayang kubur, pada setiap bulan tiga penanggalan Imlek, hingga diteruskan sampai sekarang. (Rio/toeb)

Share |
Belum ada komentar untuk berita ini
  • Nama
  • Email (email akan dirahasiakan)
  • Website / Blog
  • Komentar
  • Kode
  •  Reload Image

Berita Terkait


  • Belum ada berita terkait

Berita Terkini

[Indeks]

Jum'at, 24 Mei 2013 | 19:57

BNP2TKI Tingkatkan TKI Formal ke Mancanegara

Bogor, InfoPublik - Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) terus berupaya meningkatkan penempatan TKI formal berbasis kompetensi dan uji kompetensi ke mancanegara. Salah satu upaya menggelar Workshop Sumber-Sumber Pendanaan Harmonisasi Kompetensi dengan tema Penempatan TKI ke Luar Negeri harus Berbasis Kompetensi.

Berita Populer

[Indeks]

Jabar Terbaik Hasil UN SMA, 1 Siswa Tidak Lulus

Jakarta, InfoPublik - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh merilis data angka-angka ketidaklulusan Ujian Nasional (UN) siswa  tingkat SMA untuk tahun ajaran 2012/2013.

Kenal Indonesia


Danau Maninjau berada di kabupaten?

jawab »